Thursday, March 20, 2008

MANUSIA HARUS BERUBAH

Hidup berarti berubah. Berubah berarti kehidupan. Hal ini merupakan hukum alam yang tidak bisa diganggu gugat oleh manusia. Ketika waktu berjalan terus berarti dunia ini terus berjalan dan anda juga akan ikut berjalan bersama waktu. Namun perubahan apa yang kita alami hingga saat ini?
Dunia berubah dari waktu ke waktu. Tanpa perubahan itu, maka manusia akan tetap berada ditengah-tengah kebingungan. Tapi perubahan itu tidak selamanya menuju arah yang baik. Adakalanya menuju arah yang tidak jelas, adakalanya menuju arah yang salah, adakalnya menuju kearah yang tepat untuk kita.
Perubahan itu sendiri begitu banyak dan menyangkut semua aspek hidup manusia. Kalau dulu orang ingin pergi ke Amerika membutuhkan waktu 3 bulan maka sekarang dalam waktu kira-kira 10 jam anda sudah sampai. Kalau dulu untuk mengirim surat ke Papua butuh waktu 3-6 hari, maka sekarang anda tinggal angkat telepon atau lihat televisi untuk melihat berita yang berasal dari  Kutub Utara sampai Kutub Selatan. Sungguh perubahan yang baik bagi manusia.
Tapi apakah kita semua sadar dibalik perubahan besar lainnya manusia semakin dimanjakan oleh pikirannya sendiri. Dulu orang berperang hanya menggunakan pedang untuk berperang tapi sekarang manusia sudah menciptakan nuklir untuk melindungi dirinya sendiri. Tapi bukannya melindungi diri sendiri saja tapi tujuan ini berubah menjadi obsesi yang lain yakni membunuh sesamanya.
Ketika seorang tega melakukan penipuan terhadap sesamanya manusia, ini telah berarti perubahan, sebab ketika dilahirkan tak seorangpun mampu melakukan penipuan. Ketika pendidikan dijadikan ajang bisnis, maka ini juga sebuah perubahan, sebab pendidikan diciptakan untuk memanusiakan manusia, bukan untuk bisni.
Koruptor telah merubah orang-orang miskin menjadi lebih miskin dan merubah hidupnya menjadi sangat kaya dan berkuasa. Pejabat merubah hidupnya dengan ambisi menjadi pejabat yang lebih tinggi dengan merubah janji-janji kampanye menjadi omong koson.Seorang anak merubah hidupnya menjadi anak gelandangan karena tuntutan ekonomi dan orang tua yang tidak mampu. Seorang yang jujur merubah hidupnya dengan kekayaan dengan menjual kejujurannya pada keadaan. Seorang yang beriman merubah keyakinannya hanya untuk kepentingan kelompoknyaan. Banyak lagi perubahan manusia saat ini.
Perubahan dapat berasal dari diri manusia itu sendiri, dan juga dapat berasal dari diri orang lain. Pada intinya adalah manusia harus berubah, baik secara perlahan maupun berubah dengan cepat. Dalam mewujudkan perubahan, maka manusia dihadapkan pada pilihan, akan berubah ke sisi yang mana. Ibarat ketika manusia sampai di persimpangan, maka orang tersebut harus berani mengambil keputusan, akan belok kanan atau belok kiri. Pada saat seperti ini, manusia dituntut untuk berani mengambil resiko dan telah memikirkan solusi ketika ternyata salah arah. Sebuah jalan perubahan yang baik dan terbaik adalah manakala perubahan itu dijalani dengan pertimbangan yang matang, dilakukan dalam alam sadar dan dengan terang iman dan cinta kasih. Manusia yang tidak mau berubah akan menjadi semakin tertinggal, atau kemungkinan lain adalah manusia tersebut akan diubah orang lain sesuai dengan keinginan orang lain tersebut. Bila keinginan orang lain tersebut untuk jalan yang baik, maka bersyukurlah orang yang telah dirubah tersebut, namun bila diubah ke jalan yang sesat dan keliru?
Sekarang kita berada di tahun 2008. Maka yang menjadi pertanyaan adalah apa yang akan kita ubah dalam dalam diri kita, bagaimana kita melakukan perubahan itu, dan kearah mana kita akan berubah. Lalu perubahan apa yang ingin kita bawa untuk orang lain?
Posted by suang in 04:32:09 | Permalink | Comments (1) »

MUTIARA - MUTIARA YANG TERCAMPAK

Anak-anak adalah tunas harapan bangsa. Oleh karena itu seorang anak harus berusaha dengan sungguh-sungguh membekali dan mengasah diri supaya kedepannya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Pekerjaan utama seorang anak dan sekaligus menjadi kewajiban anak adalah dengan belajar keras.  Dengan belajar keras, seorang anak akan mampu untuk hidup dalam persaingan masa depan. Demikian ungkapan yang akrab ditelinga ketika pembicaraan mengarah pada masa depan. Hal ini juga akrab ditelinga ketika seorang guru memberikan ceramah kepada anak didiknya, pun ketika seorang kepala pemerintah memberikan ceramah pada hari anak nasional.
Memang demikianlah adanya. Ketika anak-anak masa kini tidak dibekali dengan baik, situasi bangsa ini kedepannya akan semakin runyam. Namun ada baiknya bila selalu melihat antara kenyataan dan harapan. Hal diatas adalah harapan, dan mungkin harapan kita bersama. Tapi kenyataannya bagaimana? Sudahkah semua anak mendapatkan hak belajar pada dunia pendidikan? Sudahkan seberapa serius upaya kearah tersebut ? Siapa yang bertanggung jawab terhadap anak-anak yang tidak beruntung mendapatkan pendidikan yang semestinya?
Sungguh banyak orang yang tidak beruntung di negeri ini. Mereka tidak beruntung untuk mendapatkan hidup yang layak dan sejahtera. Data bank dunia menyebutkan hampir setengah dari penduduk Indonesia adalah penduduk kategori miskin. Penduduk miskin memiliki sedikit ruang untuk mendapatkan barang dan jasa, termasuk pendidikan. Hal ini di perparah dengan mahalnya biaya pendidikan. Hanya golongan tertentu dalam kelas masyarakat Indonesia yang memiliki kesempatan memperoleh pendidikan, apalagi pendidikan yang tinggi dan bermutu.
Golongan miskin banyak dengan terpaksa setengah menelantarkan anaknya. Dalam keadaan sadar, orang tua menyuruh anak untuk ikut mencari nafkah. Dalam keadaan sadar juga, orang tua terpaksa memberhentikan anaknya dari sekolah. Anak-anak yang ditelantarkan tersebut akhirnya banyak yang menghabiskan waktu di jalanan. Profesi berbeda-beda, ada yang halal dan ada yang haram. Yang halal seperti menjadi pedagang asongan, pengemis, kondektur, dan yang lain. Profesi yang haram seperti menjadi pencopet. Dunia jalanan menjadi pendidikan bagi mereka, dan kerasnya dunia jalanan menjadi pelajaran batu bagi mereka. Hal ini akhirnya membuat akan tersebut menjadi anak yang kuat secara mental, mental untuk melakukan kompetisi secara fisik.
Tentu ini adalah sebuah ironi di negara yang berdaulat dengan kekayaan yang berlimpah. Anak-anak jalanan seseungguhnya adalah mutiara-mutiara negeri yang permai ini, mereka juga pewaris sah negeri ini hanya sayangnya mereka mutiara yang tercampak dan terlupa. Mereka dikatakan sebagai mutiara yang tercampak dan terlupa, karena mereka  mestinya mendapakan pelayanan dari negara, sebagaimana diamanatkan UUD 1945 “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Selanjutnya, mereka adalah mutiara yang terlupa, dimana orang-orang beruntung di negara ini lupa bahwa sebagian dari apa yang mereka punya adalah juga hal dari anak jalanan tersebut. Keegoisan manusia telah membuat jurang pemisah yang semakin terjal antara orang yang beruntung dan orang yang tidak beruntung.
Kebijakan-kebijakan pemerintah sebagai pelayan masyarakat juga belum berpihak kepada rakyat, utamanya anak-anak jalanan. Pemerintah belum memiliki program yang terarah untuk menghindarkan anak dari jalanan dan dunia kekerasan. Malah yang terjadi sering sekali pemerintah melalui aparatnya menangkap para gelandangan dan pengemis, karena mereka dianggap mengacaukan kota . Padahal, anak jalanan tersebut juga sebenarnya tidak punya cita-cita sebagai orang yang mendapatkan nafkah dengan cara mereka saat ini. Mereka tentu menginginkan sebuah kehidupan yang lebih baik dan manusiawi. Artinya adalah tidak ada keseriusan pemerintah.
Para hartawan di negara ini juga belum terketuk hatinya untuk melakukan sebuah misi sosial mengangkat anak jalanan. Para hartawan lebih memilih untuk semakin menimbun dan melipat gandakan hartanya. Bahkan tidak jarang para hartawan (pengusaha) melakukan penyerobotan tanah milik orang miskin.

 

Karena Ekonomi, Dengan Ekonomi
Kondisi ekonomi menjadi faktor yang menyebabkan lahirnya anak jalanan. Orang tua yang tidak memiliki dana untuk menyekolahkan anaknya menyebabkan anak mencari kegiatan baru, yakni mencari uang. Upaya mencari uang yang paling cepat bagi mereka adalah di jalanan. Boleh dikatakan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab besar lahirnya mutiara yang tercampakkan tadi.
Mengatasi semakin banyaknya anak jalanan tentu juga dengan perbaikan ekonomi masyarakat dan anak jalanan tersebut. Anak-anak jalanan harus diangkat kehidupannya, bukan malah dibunuh pelan-pelan. Ekonomi rakyat juga harus diperbaiki guna mencegah tercampaknya mutiara yang indah. Ekonomi yang mensejahterakan, akan berhasil berkat keseriusan pemerintah dan dorongan dari masyarakat.
Mudah-mudahan, beberapa tahun kedepan kita tidak lagi melihat mutiara yang demikian indahnya akan tercampak dan ditimpa oleh arus zaman globalisasi.

Posted by suang in 04:25:06 | Permalink | No Comments »

PILWAKO 2008: ANTARA HARAPAN DAN REALITA

 

Sistem demokrasi di negara ini telah mengalami kemajuan. Salah satu kemajuan tersebut adalah pemilihan kepala daerah melalui partisipasi masyarakat secara langsung. Masyarakat akan memilih sendiri siapa pemimpin yang dikehendakinya. Kondisi ini tentu berbeda jauh dengan system pemilihan kepala daerah sebelum tahun 2004. Pada masa itu, kepala daerah dipilih oleh perwakilan rakyat yang direpresentasikan oleh DPRD.
Bila tidak ada masalah, bulan Agustus nanti kota Jambi akan melaksanakan Pemilihan Walikota secara langsung. Ini merupakan pemilihan walikota pertama secara langsung di kota Jambi, sebab walikota yang sekarang masih dipilih oleh anggota DPRD 1999-2004. Partai politik sudah mulai berkonsolidasi untuk menentukan siapa calon yang diusung, dan saat ini telah mulai menjualnya kepada masyarakat kota Jambi. Baleho besar yang memuat foto para kandidiat telah bersebaran di sepanjang ruas jalan kota, yang membuat suasana kota semakin semberawut oleh tampang-tampang calon walikota tersebut. Harapan dari partai atau calon walikota tersebut tentu, dengan pengkampanyean dini ini, masyarakat akan semakin ingat dan semakin hafal dengan wajah calon tersebut.
Kondisi ini sebenarnya akan memberikan sinyal negative bagi masyarakat. Betapa tidak, masa kempanye belum dimulai, tapi para politikus yang ambisi untuk jadi walikota telah memulai kampanye. Ini berarti pencurian start kampanye, yang berarti juga telah melanggar aturan kampanye. Bagaimana jadinya jika calon walikota yang nantinya akan menjadi symbol dan orang nomor satu di kota jambi ternyata suka melanggar aturan main yang ada? Ini tentu sebuah tontonan yang tidak baik. Tidaklah sewajarnya mempertontonkan iklan obat kuat disaat jam anak-anak menonton.
Setiap pelaksanaan proses demokrasi akan ada harapan terhadap sisi terang dimasa mendatang. Masyarakat selalu berharap akan hadirnya pemimpin yang memperhatikan dan berpihak kepada kepentingan rakyat, yang nantinya akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik kepada mereka. Masyarakat juga selalu berharap supaya walikota mendatang memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, tidak kaku, dan tidak berbelit-belit. Sejuta harapan masyarakat boleh-boleh saja, tapi realisasi akan harapan tersebut akan kita lihat bersama setelah walitota terpilih dan bekerja. Apakah memang walikota terpilih akan benar-benar mewujudkan janji kampanyenya, atau hanya akan memanfaatkan masyarakat untuk mencapai ambisinya saja. Tuduhan ini tentu boleh-boleh saja, sebab kita telah sama-sama belajar dari pemerintahan masa lalu, dan masyarakat juga telah sama menyaksikan bagaimana para calon walikota secara bersama-sama melakukan pencurian start kampanye, bersama-sama melanggar aturan main.
Masyarakat kota jambi mulai dari saat ini sudah waktunya untuk mulai mengkaji siapa yang akan dipilih nantinya. Masyarakat sudah harus mulai melihat latar belakang masing-masing calon, seperti misalnya apakah pernah terlibat dalam illegal logging, pelanggaran HAM, pelaku tindak pemerkosaan, dan sebagainya. Masyarakat juga sudah harus mengkaji program-program yang ditawarkan oleh para calon, apakah program tersebut masuk akal atau tidak, apakah program tersebut sesuai untuk kota jambi atau tidak, apakah program tersebut untuk kepentingan rakyat atau hanya untuk kepentingan pejabat.

Bila ternyata dari hasil analisa terhadap calon tidak seorangpun yang memenuhi kriteria, karena misalnya diyakini tak seorangpun yang mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat, jalan yang mungkin dapat ditempuh oleh rakyat adalah memilih untuk tidak memilih (golput). Pada dasarmya, golput yang sadar bukanlah bentuk ketidakpedulian, tetapi merupakan bentuk perlawanan terhadap kondisi dan system yang tidak baik. Masyarakat tentu bebas untuk menentukan pilihannya: memilih mencoblos atau memilih tidak mencoblos. Sebab tujuan dari pemilihan walikota ini tidak semata-mata hanya memilih walikotanya saja, tetapi lebih dari itu adalah memilih walikota yang diyakini mampu berjuang dan bekerja untuk rakyat, atau dengan kata lain memilih walikota yang siap dan bersedia menjadi pelayan bagi masyarakatnya

Posted by suang in 04:15:08 | Permalink | Comments (2)

MENDERITA DI NEGERI GEMILANG HARTA


Indonesia
, tanah surga yang jatuh ke bumi. Negeri yang indah nan permai. Indonesia , negeri kaya raya dengan sumber daya alam yang berkelimpahan. Indonesia juga, negeri yang masyarakatnya hidup dalam kemelaratan dan penderitaan. Inilah fenomena yang sangat menyedihkan,  masyarakat menderita diatas tumpukan harta. Data Bank Dunia (Word Bank) menyebutkan bahwa hampir setengah penduduk di negara ini hidup dibawah garis kemiskinan. Tidak sampai 20% lulusan SMA sederajat yang melanjutkan pendidikannya ke tahap perguruan tinggi.

Kenyataan diatas tentu bukan hanya diatas kertas saja. Fenomena di lapangan memang juga menunjukkan hal tersebut. Tiap tahun negara ini mengekspor manusia ke nergara asing dalam bentuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Petani selalu indentik dengan orang miskin, karena memang itulah kenyataannya, yang menjadikan petani tidak bangga dengan profesinya sebagai petani. Kasus anak sekolah bunih diri karena tidak mampu bayar uang sekolah telah banyak terjadi. Diatas tumpukan sampah, para pemulung membanting tulang mengais rejeki. Anak putus sekolah lalu menjadi pengamen dan peminta-minta. Guru berprofesi ganda sebagai tukang ojek karena gajinya tak cukup menafkahi keluarganya. Masih banyak kenyataan lain yang sungguh memprihatinkan.
Ketika anak bangsa yang nota bene sebagai pewaris sah negara ini hidup dalam kondisi yang terseok-seok, pemilik modal dari negara asing datang ramai-ramai untuk berusaha di Indonesia, tentu atas ijin dan kesempatasn yang diberikan  pemerintah. Al-hasil,  mereka berhasil menguras isi perut ibu pertiwi dan mendapatkan kekayaan yang demikian besarnya. Dari pihak pemerintah, kedatangan investor (pemodal) asing ini diungkapkan sebagai kedatangan dewa penyelamat, dengan alasan bahwa dengan banyaknya investor yang datang, maka lapangan kerja akan semakin meningkat, sehingga pengangguran bisa berkurang. Alasan selanjutnya yakni bahwa dengan investasi (penanaman modal) pihak asing di negara ini akan memberikan pemasukan yang besar bagi pendapatan negara dan masyarakat. Demikiankah adanya? Mengapa bangsa asing mau menginvestasikan uangnya di negara ini?
Memang benar bahwa kehadiran investor asing memberikan dampak terhadap semakin besrnya pendapatan negara, pendapatan masyarakat, dan juga benar bahwa kehadiran investor ini akan mengurangi jumlah pengangguran. Hal ini memang hukum wajib dari ekonomi. Namun perlu dilihat bagaimana sebenarnya aktivitas mereka di negara ini. Mereka hanya menggunakan orang Indonesia sebagai buruh kasar atau kuli dan pejabat bawahan. Sedangkan berbagai jabatan penting perusahaan dipegang oleh pihak mereka, sehingga kebijakan perusahaan seluruhnya ada pada mereka. Hal ini berarti bahwa mereka (investor asing) hanya memanfaatkan kekayaan Indonesia demi kekayaan mereka sendiri. Mereka menggunakan tenaga orang Indonesia sebagai buruh karena anak bangsa ini mau dan rela di gaji dengan rendah. Para tenaga kerja bekerja dengan sekuat tenaga hanya untuk mendapatkan gaji yang tidak seberapa jumlahnya, sedangkan sang pengusaha, akan mendapatkan keuntungan yang demikian besar dari alam negeri ini dan dari keringat anak bangsa.
Bagaimana dengan perlindungan pemerintah terhadap alam dan masyarakat? Pemeritah masih terkesan kurang peduli. Pemerintah lebih sering membela para pengusaha asing dari pada membela darah sebangsa. Opini yang berkembang bahwa pengusaha dan pemerintah memang telah melakukan kerjasama dibawah tangan. Hal ini entah benar atau tidak. Namun kembali kepada hakikatnya, bahwa pemerintahan di negara ini di bentuk bukan untuk menindas rakyatnya sendiri dan menjual negara ini, tapi adalah untuk melingdungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia . Artinya adalah pemerintah harus bentindak sebagai pelayan masyarakat.
Kelihatannya pemerintah telah lupa akan hal ini, sehingga rakyat perlu untuk kembali mengingatkan pemerintah di negara ini. Rakyat perlu menceritakan kisahnya yang hidup melarat diatas harta yang bergemilang dan mengungkapkan keinginannya untuk menikmati kekayaan alam yang telah diwariskan para pejuang dan pendahulu bangsa. Rakyat yang merasa senasib dan sepenanggungan harus bersatu untuk hal tersebut. Dengan bersatunya insan yang senasib untuk mewujudkan cita-cita bersama, saat itu pula cita-cita tersebut akan  tercapai. Berjuang bersama-sama lebih baik dari pada berjuang sendiri-sendiri.

Posted by suang in 03:09:22 | Permalink | No Comments »

Tuesday, March 18, 2008

SUHARTO, ANTARA PENJAHAT DAN PAHLAWAN

Belakangan ini muncul keinginan dari beberapa elemen masyarakat untuk mentahbiskan gelar pahlawan kepada soeharto, sang penguasa rezim orde baru yang berkuasa selama 32 tahun. Keinginan ini pertamakali dikumandangkan oleh anggota dewan yang berasal dari partai Golkar, yang merupakan partai ciptaan beliau.
Opini yang dikembangkan untuk menggolkan rencana pemberian gelar pahlawan ini adalah bawha soeharto telah mengabdi bagi bangsa dan negara sebagai pejuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, dan melalui program pembangunan yang dilakukan beliau selama berkuasa. Mereka berasumsi bahwa pembangunan yang dicapai saat ini merupakan kontribusi beliau selama berkuasa.
Pendapat ini memang tidak dapat disalahkan. Soeharto berhasil melakukan banyak pembangunan di negara ini, terutama pembangunan fisik seperti jalan-jalan, gedung-gedung pencakar langit, dan sebagainya. Soeharto juga berhasil menciptakan stabilitas ekonomi dan politik selama pemerintahannya. Investor-investor dari luar negeri berhasil di datangkan ke Indonesia. Hal ini memang dianggap menjadi sebuah prestasi oleh para pendukung dan pengikutnya.
Memandang sosok soeharto tidak cukup hanya melihat apa yang menjadi prestasinya. Tidaklah cukup memberikan gelar pahlawan kepada beliau bila hanya dengan melihat dari satu sisi saja. Memandang soeharto juga harus dengan memandang sejarah dan berbagai kesalahan-kesalahan yang telah beliau lakukan selama karirnya.
Dalam karir militernya, Soeharto pernah hendak dipecat ketika beliau menggunakan jabatan dan kekuasaannya untuk memainkan bisnis ilegal bersama pengusaha asal Cina yakni lim soe liong dan probosutejo. Atas moral yang bobrok ini beliau dimasukkan kedalam pasukan cadangan angkatan darat. Pasukan ini merupakan tempat pasukan yang bermasalah. Terakhir pasukan buangan ini yang diubah statusnya menjadi pasukan Kostrad. Supersemar yang dianggap sebagai surat sakti hingga kini tidak kelihatan dimana letaknya. Hal ini berarti menghilangkan dokumen penting negara, dan untuk ini dapat dikenakan hukuman kepada orang yang melakukan hal tersebut sesuai dengan undang-undang.
Pada saat soeharto mengaku sebagai penerima mandat dari soekarno, maka upaya yang pertama dilakukannya adalah menghancurkan partai komunis dan pengikut-pengikutnya. Operasi penghancu-ran komunis ini dilakukan dengan cara kekerasan dan tanpa proses peradilan yang jelas. Banyak orang yang dipenjarakan dan dibunuh tanpa proses peradilan yang jelas. Memang tidak ada jumlah yang jelas terhadap jumlah korban gerakan ini. Namun beberapa pers luar negeri merilis bahwa terdapat hampir satu juta orang yang dipenjara dan dibunuh karena dianggap sebagai PKI dan pengikut PKI. Ini merupakan bentuk kekejaman terhadap kemanusiaan, atau dengan kata lain pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang sangat sadis dan tidak manusiawi.
Ketika soeharto berkuasa, suara-suara kritis juga dibungkam. Tidak ada kebebasan berpikir dan berekspresi bagi orang kritis yang membela kebenaran dan keadilan. Orang-orang yang tidak sepaham (berseberangan) dengan soeharto tempatnya adalah penjara, juga tanpa melalui peradilan yang jelas. Orang-orang ini sebut saja Sri Bintang Pamungkas, Muchtar Pakpahan, Budiman Sudjatmiko, Fachrul Rahman, dan deretan nama lainnya. Akhirnya dinasti soeharto melenggang hingga 32 tahun. Kasus kasus KKN merajalela. Keluarganya dan teman-teman dekat Soeharto memiliki keistimewaan di negeri ini, seolah-olah negeri ini milik mereka saja.
Bukan itu saja. Soeharto telah membuka pintu terbuka seluas-luasnya untuk masuknya investor asing. Terjadilah eksploitasi besar-besaran terhadap isi bumi Indonesia. Kekayaan alam ini dikuras oleh bangsa asing. Bangsa kita hanya menjadi kuli dan buruh kasar. Keuntungan yang tinggal sangat-sangat kecil. Pemerintahan Soeharto tidak pernah mau untuk meninjau ulang kebijakannya yang telah menyeng-sarakan masa depan negara ini. Tentu masih banyak lagi penderitaan yang timbul oleh karena kebijakan pemerintahan Soeharto yang tidak berpihak kepada rakyat.
Melihat kembali dua aspek yang bertolak belakang ini, maka rasanya tidak pantas memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto. Pengabdiannya terlalu dangkal hingga dengan mudah tertimbun oleh kejahatan-kejahatan politik dan kejahatan yang timbul akibat kebijakannya. Sungguh tidak adil memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto karena terlalu banyak rakyat yang menderita dan terdindas dibuatnya.
Memberikan gelar penjahat terhadap soeharto juga terlalu ekstrim. Apakah memang layak memberikan gelar penjahat kepada seorang yang bergelar bapak pembangunan yang sekaligus mantan presiden? Maka akan lebih baik apabila kroni-kroni Soharto dan para binaannya tidak lagi menggemborkan dan ngotot untuk pemberian gelar kepada Soeharto. Semakin ngotot mereka memberikan gelar pahlawan, perseteruan akan semakin memanas antara kroni Soeharto dengan para aktivitis, terutama yang dengan nyata pernah merasakan derita atas kepemimpinan Soeharto

Posted by suang in 06:23:28 | Permalink | No Comments »