Thursday, March 20, 2008

PILWAKO 2008: ANTARA HARAPAN DAN REALITA

 

Sistem demokrasi di negara ini telah mengalami kemajuan. Salah satu kemajuan tersebut adalah pemilihan kepala daerah melalui partisipasi masyarakat secara langsung. Masyarakat akan memilih sendiri siapa pemimpin yang dikehendakinya. Kondisi ini tentu berbeda jauh dengan system pemilihan kepala daerah sebelum tahun 2004. Pada masa itu, kepala daerah dipilih oleh perwakilan rakyat yang direpresentasikan oleh DPRD.
Bila tidak ada masalah, bulan Agustus nanti kota Jambi akan melaksanakan Pemilihan Walikota secara langsung. Ini merupakan pemilihan walikota pertama secara langsung di kota Jambi, sebab walikota yang sekarang masih dipilih oleh anggota DPRD 1999-2004. Partai politik sudah mulai berkonsolidasi untuk menentukan siapa calon yang diusung, dan saat ini telah mulai menjualnya kepada masyarakat kota Jambi. Baleho besar yang memuat foto para kandidiat telah bersebaran di sepanjang ruas jalan kota, yang membuat suasana kota semakin semberawut oleh tampang-tampang calon walikota tersebut. Harapan dari partai atau calon walikota tersebut tentu, dengan pengkampanyean dini ini, masyarakat akan semakin ingat dan semakin hafal dengan wajah calon tersebut.
Kondisi ini sebenarnya akan memberikan sinyal negative bagi masyarakat. Betapa tidak, masa kempanye belum dimulai, tapi para politikus yang ambisi untuk jadi walikota telah memulai kampanye. Ini berarti pencurian start kampanye, yang berarti juga telah melanggar aturan kampanye. Bagaimana jadinya jika calon walikota yang nantinya akan menjadi symbol dan orang nomor satu di kota jambi ternyata suka melanggar aturan main yang ada? Ini tentu sebuah tontonan yang tidak baik. Tidaklah sewajarnya mempertontonkan iklan obat kuat disaat jam anak-anak menonton.
Setiap pelaksanaan proses demokrasi akan ada harapan terhadap sisi terang dimasa mendatang. Masyarakat selalu berharap akan hadirnya pemimpin yang memperhatikan dan berpihak kepada kepentingan rakyat, yang nantinya akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik kepada mereka. Masyarakat juga selalu berharap supaya walikota mendatang memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, tidak kaku, dan tidak berbelit-belit. Sejuta harapan masyarakat boleh-boleh saja, tapi realisasi akan harapan tersebut akan kita lihat bersama setelah walitota terpilih dan bekerja. Apakah memang walikota terpilih akan benar-benar mewujudkan janji kampanyenya, atau hanya akan memanfaatkan masyarakat untuk mencapai ambisinya saja. Tuduhan ini tentu boleh-boleh saja, sebab kita telah sama-sama belajar dari pemerintahan masa lalu, dan masyarakat juga telah sama menyaksikan bagaimana para calon walikota secara bersama-sama melakukan pencurian start kampanye, bersama-sama melanggar aturan main.
Masyarakat kota jambi mulai dari saat ini sudah waktunya untuk mulai mengkaji siapa yang akan dipilih nantinya. Masyarakat sudah harus mulai melihat latar belakang masing-masing calon, seperti misalnya apakah pernah terlibat dalam illegal logging, pelanggaran HAM, pelaku tindak pemerkosaan, dan sebagainya. Masyarakat juga sudah harus mengkaji program-program yang ditawarkan oleh para calon, apakah program tersebut masuk akal atau tidak, apakah program tersebut sesuai untuk kota jambi atau tidak, apakah program tersebut untuk kepentingan rakyat atau hanya untuk kepentingan pejabat.

Bila ternyata dari hasil analisa terhadap calon tidak seorangpun yang memenuhi kriteria, karena misalnya diyakini tak seorangpun yang mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat, jalan yang mungkin dapat ditempuh oleh rakyat adalah memilih untuk tidak memilih (golput). Pada dasarmya, golput yang sadar bukanlah bentuk ketidakpedulian, tetapi merupakan bentuk perlawanan terhadap kondisi dan system yang tidak baik. Masyarakat tentu bebas untuk menentukan pilihannya: memilih mencoblos atau memilih tidak mencoblos. Sebab tujuan dari pemilihan walikota ini tidak semata-mata hanya memilih walikotanya saja, tetapi lebih dari itu adalah memilih walikota yang diyakini mampu berjuang dan bekerja untuk rakyat, atau dengan kata lain memilih walikota yang siap dan bersedia menjadi pelayan bagi masyarakatnya

Posted by suang at 04:15:08
Comments

2 Responses to “PILWAKO 2008: ANTARA HARAPAN DAN REALITA”

  1. suang says:

    Ada pilihan selain golput, bung?

  2. Anonymous says:

    Hidup Golput!!!

    Jangan percaya kepada politisi yang ada saat ini.
    Mereka semua tidak becus.

Leave a Reply